Nyekar Warnai Hari Jadi Kota Semarang
Nama pangeran Made Pandan bersama putranya Raden Pandan Arang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga warga masyarakat Kota Semarang. Kedua tokoh tersebut merupakan tokoh penting dalam sejarah kota Semarang.
Di masa dulu, Pangeran Made Pandan bersama putranya Raden Pandan Arang dari kesultanan Demak, meninggalkan Demak menuju ke daerah Barat. Pada suatu daerah bernama Pulau Tirang, keduanya membuka hutan dan mendirikan pesantren guna menyiarkan agama Islam. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dan dari sela- sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan Asem Arang. Pohon itulah yang kemudian menjadi nama daerah subur yang kini dikenal dengan kota Semarang. Sebagai pendiri desa, Raden Pandan Arang kemudian diangkat menjadi kepala daerah setempat dengan bergelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II. Di bawah pimpinan Kyai Pandan Arang, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhan yang pesat hingga akhirnya diputuskan sebagai daerah setingkat dengan kabupaten. Selanjutnya, Pandan Arang pun diangkat sebagai bupati pertama oleh Sultan Pajang melalui konsultasi dengan Sunan Kalijaga bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal
12 rabiul awal tahun 954 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1547 masehi. Pada tanggal yang samalah kota Semarang secara adat dan politis resmi berdiri. Kini, kota subur yang dulunya dipimpin oleh raden Pandan Arang tersebut sudah hampir menginjak usia ke-463. Seakan mengapresiasi kerja keras dan jasa pendiri kota Semarang, Selasa(27/4) Walikota beserta para kepala Dinas, Bagian, SKPD serta jajaran PNS kota Semarang mengadakan kegiatan ziarah ke makam Pandan Arang di komplek pemakaman Mugas. Ikut pula hadir dalam kegiatan ziarah tersebut adalah para tokoh agama dan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, diadakan pula kegiatan tahlil dan dzikir dalam rangka memperingati hari jadi ke-463 kota Semarang. Dalam kesempatan tersebut, Walikota mengajak seluruh peziarah untuk mengenang kembali jasa-jasa Raden Pandan Arang. Seiring usia yang semakin bertambah, kota Semarang juga mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Kota Semarang yang awal mulanya hanya berupa perkampungan sederhana, pada usianya yang ke-463 tahun ini telah berkembang menjadi kota metropolitan, sejajar dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Berbagai fasilitas dan sarana infrastruktur tersedia di kota ini. Aktivitas perekonomian, perdagangan dan jasa pun berjalan secara dinamis. Disela berbagai macam dan ketersediaan infrastruktur dan keberhasilan, tentunya kita perlu menyadari masih banyak kekurangan dan pembenahan yang harus dilakukan,” ungkap Walikota. Lebih lanjut, Walikota mengajak seluruh peziarah untuk senantiasa memandang ke depan dan optimis. ”Kesuksesan bukanlah akhir, tetapi merupakan suatu pijakan untuk pencapaian selanjutnya,” ungkap Walikota. Untuk membangun kota Semarang, lanjut Walikota, pemerintah telah mengupayakan berbagai langkah diantaranya adalah dengan membangun SDM sebagai pondasi melalui program bidang pendidikan. Usai melakukan tahlil dan dzikir di makam sunan Pandanaran, Walikota dan Ny. Sinto Sukawi beserta jajaran pejabat Pemkot juga melakukan kegiatan tabur bunga. Sebelumnya, kegiatan yang sama juga telah dilakukan dengan bertempat di pemakaman Giri Tunggal. Kegiatan ziarah dalam rangka peringatan hari jadi ke-463 kota Semarang tak hanya berhenti sampai di situ. Kamis(29/4), Pemkot juga akan melakukan kegiatan ziarah ke makam Sunan Tembayat yang merupakan nama lain dari Raden Pandan Arang II.
Rabu, 26 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar